CINTA
LOKASI
Pagi
itu kami semua berkumpul di sekolah karena hari itu kami akan berangkat ke
salah satu tempat wisata yang ada luar kota dalam rangka wisata tahunan
sekolah. Sambil menunggu guru dan teman-teman yang lain datang aku duduk di
bawah pohon yang rindang untuk beristirahat sejenak sebelum memulai perjalanan.
Tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang melangkahkan kakinya menuju ke
arahku, ternyata dia Fitri yang sedang membagikan roti dan air mineral untuk
sarapan kami.
‘’Assalamualaikum, ini roti sama
airnya’’ katanya kepadaku.
Dengan tangan gemetar aku
mengambil roti dan air yang ia berikan kepadaku, bahkan mulutku seperti
terkunci dan tak bisa berkata apa-apa
karena mendengar suara yang lemah lembut keluar dari mulutnya. Senyum manis di
wajahnya pun membuat hatiku berdegup kencang.
“Perhatian untuk semua pembina
dan peserta agar bisa berkumpul sekarang” kata Fahrul, teman sekelasku yang
tugasnya hanya menyuruh dan marah-marah.
Kami pun berkumpul dan berbaris
dengan rapi. Bus yang akan kami tumpangi telah tiba saejak tadi pagi. Kami berbaris
dengan rapi agar bisa masuk kedalam bus dengan rapi. Tak ku sangka aku satu bus
dengan Fitri dan duduk di sampingnya. Mula-mula aku malu untuk berbicara
dengannya karena saat itu aku benar-benar merasa gugup dan kaku. Bis pun
berjalan dan aku masih merasa gugup, tiba-tiba dia memanggilku.
“kak, ini permennya” katanya
kepadaku
Sontak akupun kaget saat ia
memberikan beberapa permen kepadaku. Dengan senyuman yang manis seperti tadi ia
menatapku dan aku hanya bisa tersenyum kecil kepadanya. Sejak itu aku
memberanikan diri untuk berbicara kepadanya. Banyak pertanyaan yang keluar dari
mulutku, aku memang ingin tahu seluk beluk tentang dirinya. Disitulah mulai ada
perasaan suka kepadanya. Sepertinya ia wanita yang baik, senang diajak
berbicara.
Tak
lama kami sampai di tempat tujuan, kamipun turun dari bus. Aku membantunya
membawa barang karena kulihat ia merasa keberatan dengan barang bawaannya. Karena
barangnya ada padaku ia selalu berada di dekatku seolah-olah kami ini sudah
pacaran. Sampai ditempat kamipun kembali berbaris dan siap-siap untuk istirahat
sejenak.
Selesai
istirahat kami kembali berkumpul untuk melanjutkan acara. Karena acaranya hanya
sehari jadi kamus bergegas untuk memulainya. Setelah berbaris kami diberi
arahan bahwa kami akan melewati hutan untuk menuju ke air terjun yang jaraknya
lumaya jauh, kamipun muai berjalan sesuai dengan kelompok. Kelompok Fitri
berjalan paling terakhir. Karena aku yang membawa tas Fitri jadi aku juga harus
ikut di barisan paling belakang. Aku lihat sepertinya Fitri kelelahan karena ia
berjalan agak lambat sampai-sampaikami berdua hampir ketinggalan oleh barisan
yang lain. Tiba-tiba ia terjatuh di hadapanku. Sontak aku segera membantunya,
aku liat kakinya berdarah, segera kukeluarkan obat yang ada di dalam tas ku,
segera ku obati kakinya yang terluka. Terlihat di wajahnya, ia seperti menahan
rasa sakit. Akupun menjadi khawatir terhadapnya. Setelah beberapa lama ia
merasa mendigan namun ia belum mampu berdiri. Kami sudah tertinggal jauh dengan
barisan yang lain. Saat itu juga terlintas di pikiranku kalau inilah kesempatanku
untuk mengungkapkan isi hatiku kepadanya. Lalu akupun mulai jujur kepadanya
tentang perasaanku. Kuceritakan semua kekagumanku kepadanya sampai senyum manis
di wajahnya yang membuatku gugup dan kaku. Tak ku sangka ia pun mulai jujur
dengan perasaannya. Dan sejak saat itu aku lebih sering bertemu dan
berkomunikasi dengannya. tanpa aada masalah apapun di antara kami, hari-hari
kami jalani dengan penuh kebahagiaan
